our product

our product
about us
11/08/2008

86% Bayi di Indonesia Tidak Diberi ASI Ekslusif
11/08/2008

Hanya 14% ibu di tanah air yang memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara ekslusif kepada bayinya hingga berusia 6 bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI ekslusif kurang dari 2 bulan.

 

Hasil yang dikeluarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) periode 1997 - 3002 cukup memprihatinkan. Bayi yang mendapat ASI ekslusif sangat rendah. Sebanyak 86% bayi mendapatkan makanan berupa susu formula, makanan padat, atau campuran antara ASI dan susu formula.

 

Direktur Bina Gizi Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan (Depkes), Ina Hernawati menjelaskan, fenomena semacam itu akan berimbas buruk bagi kesehatan balita.

 

Ia merujuk pada penelitian di Ghana, yang menunjukkan bahwa 16% kematian bayi baru lahir bisa dicegah bila bayi disusui pada hari pertama kelahiran.

 

"Angka harapan hidup bayi akan meningkat menjadi 22% jika bayi disusui pada satu jam pertama setelah kelahiran,"kata Ina di sela-sela kampanye pekan ASI ekslusif sedunia di Jakarta, 07 Agustus 2008.

 

The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) memperkirakan 1 juta bayi dapat diselamatkan setiap tahunnya bila diberikan ASI pada satu jam pertama kelahiran, kemudian dilanjutkan ASI ekslusif sampai dengan enam bulan.

 

Ina menyebutkan, sejatinya kelompok masyarakat yang paling rentan terancam penyakit dan kekurangan gizi adalah ibu hamil, bayi, remaja, dan usia lanjut.

 

Depkes mencatat, dari 10 ibu hamil di Indonesia, kira-kira ada emapat ibu yang menderita anemia zat besi, dan dua kekurangan gizi. Sementara itu, pada balita, dari 10 balita, sekitar dua sampai tiga balita menderita kekurangan gizi.

 

Kultur Sosial

 

Pada kesempatan terpisah, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono berpendapat, faktor sosial budaya ditenggarai menjadi faktor utama pada pemberian ASI ekslusif pada balita di Indonesia.

 

Ketidaktahuan masyarakat, gencarnya promosi susu formula, dan kurangnya fasilitas tempat menyusui di tempat kerja dan publik menjadi kendala utama. : Seharusnya tidak ada alasan lagi bagi seorang ibu untuk tidak menyusui bayinya," kata Meutia.

 

Ia mengatakan faktor sosial budaya berupa dukungan suami terhadap pemberian ASI ekslusif menjadi faktor kunci kesadaran sang ibu untuk memberikan gizi terbaik bagi bayinya.

 

"Dukungan suami terhadap ibu untuk menyusui harus ditingkatkan. Keluarga dan masyarakat juga harus memberikan arahan dan ruang," jelas Meutia.

 

Pasalnya, minimnya dukungan keluarga dan suami membuat ibu seringkali tidak semangat memberikan ASI kepada bayinya. Tidak sedikit bayi baru berumur dua bulan sudah diberi makanan pendamping karena ketidaktahuan ibu terhadap manfaat ASI.

 

Berdasarkan riset yang telah dibuktikan di seluruh dunia, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi hingga enam bulan, dan disempurnakan hingga umur dua tahun.

 

Sumber: Media Indonesia, 08 Agustus 2008, hal. 11